Jumat, 20 Juni 2008

VIRTUAL GALLERY
Membangun jaringan global


Seni rupa kini berada dipinggir fase baru perkembangannya seiring dengan kedatangan abad 21. Pada waktu yang dipenuhi oleh perubahan yang cepat diiringi dengan kemajuan teknologi ini, budaya kontemporer seluruh dunia semakin cepat diselubungi oleh suasana yang dinamik. Paradigma budaya tempat yang sebelum ini ditafsirkan selesai, kini terpaksa hadir diatas pentas yang senantiasa bergerak dan berubah. Malah pendekatan yang sama terhadap sejarah kini telah diganti oleh naratif yang bertindih dan bersimpang siur . Detik sejarah yang luas ini boleh diuraikan sebagai satu ajakan dari modernisme abad 19 dan awal abad ke 20 pada budaya pasca-modern ke 21.
Kita diabad ke 21 termasuk masyarakat tidak mempunyai pilihan selain dan perlu berhadapan dengan arus ledakan informasi atau data yang terus menerus dan mengiringi keterlibatan masyarakat seluruh dunia yang selalu memperoleh atau mengakses informasi. Didalam ruang geopolitical dan ekonomi pertemuan baru serta demokratik di dunia internet, mereka akan dikelilingi dan dihujani oleh obyek informasi yang senantiasa berubah. Obyek budaya tidak berjasad yang bersifat anti-artifak ini akan senantiasa dijamah, dirombak dan berkembang. Ruang dan masa internet yang tidak sama dan bersifat sementara ini adalah metafora yang wajar digunakan untuk bersifat sementara ini adalah metaphor yang wajar digunakan untuk menggambarkan situasi pada penghujung abad ke 20.
Hasil dari ciri kesamaan dan immersive(keterlibatan secara langsung)dalam kancah representasi yang dimungkinkan oleh teknologi digital hari ini ( internet,media hyper, reality maya dsb,), idiom-idiom representasi saintik dan artistik kini semakin bergabung. Dalam hal ini, perlu dimaklumi juga bahwa sebelum Renaissance di Eropa, seni memainkan peranan penting dalam menyuburkan ekspresi aturan simbolik, suatu kosmologi yang berasaskan tradisi dan sumber keagamaan. Malah, seni suci sebelum ini dianggap sebagai teknologi atau kalkulus yang mengungkap kebenaran universal. Malangnya dalam urutan sejarah Renaissance , tradisi suci atau keagamaan telah dipisahkan dari system pemerhatian terhadap alam. Pemisahan ini disambut dengan kelahiran ilmu impirikal. Dari sinilah seni mulai berkembang sebagai penumpuan terhadap kontemplasi atau pemerhatian estetik, manakala sains ditafsir sebagai fakta objektif yang nyata terhadap alam.
Boleh dibuktikan bahwa teknologi kita kini berada diambang persamaan antara sains dan seni. Berbagai kegiatan kesenian bisa diakses melalui dunia maya yang dasarnya adalah perkembangan dari sains itu sendiri yaitu seni yang berdasarkan pada teknologi, juga perkembangan dari new media art yang mempengaruhi intitusi dan perupa yang bergerak didalam kebudayaan dengan melakukan berbagai upaya membuat blog maupun web, galeri online untuk mencapai jaringan global. Pengalaman saya bekerja pada perusahaan internet dam multimedia membuka mata untuk ikut terlibat dalam jaringan global, melalui mailinglist tertentu kita bisa mendialogkan atau membuat gagasan yang pada akhirnya akan menghasilkan sebuah karya seni, baik berupa buku, pameran didalam dunia maya maupun video art yang dipamerkan secara online maupun offline di galeri-galeri yang mengkhususkan pada persentuhan antara seni dan teknologi.Misalnya Worldwide.designers.2007.com atau www.wwd07.com, sebuah web hasil dari forum diskusi yang melibatkan 140 perupa dari berbagai negara baik Asia, Eropa dan Amerika dengan tema “tolerance and solidarity”, melalui mailinglist saya bertemu dengan Nicolas Andre yang berlokasi Di Toulouse Perancis sebagai penggagas untuk melahirkan sebuah pameran dan buku kumpulan grafis. Jaringan global ini berupaya menempatkan karya seni masing- masing negara sebagai sebuah kesadaran untuk memahami kebersamaan tanpa ada perbedaan suku, agama dan lain sebagainya. Selama proses satu tahun berdiskusi dan berdialog mempresentasikan karya melalui dunia maya pada akhirnya menghasilkan sebuah buku Seni Grafis modern yang diterbitkan oleh Neopen Studio atau edition populare.com. Pada pameran Expression of love between Australia and Indonesia yang digelar di café-café sekitar Byron Bay NSW, saya mengirimkan cd interaktif dan cd yang berisi karya – karya terbaru, dalam pameran ini setiap perupa terpilih bisa mengakses internet untuk melihat karya yang dipamerkan. Pameran seni rupa dan diskusi di galeri dunia maya akhirnya menjadi ruang alternatif untuk melibatkan diri pada forum-forum dunia.
Galeri di dunia maya sebagai ruang alternative bagi para perupa yang tidak mampu menembus galeri – galeri yang di kelola oleh para pengusaha dan para kuratornya dengan segala aturannya. Kiranya sangatlah penting para perupa muda untuk mendialogkan atau merepresentasikan pada galeri dunia maya. Memang kalau kita menengok pada pertumbuhan galeri yang ada di Kota Surabaya, seharusnya sangat menguntungkan bagi kehidupan berseni rupa, artinya dengan adanya galeri karya-karya bisa dilihat oleh publik Surabaya mempunyai banyak perupa seharusnya mampu memberi warna pada galeri-galeri lokal yang lokal yang ada. Tetapi galeri lokal yang ada saat ini boleh dikata merupakan galeri offline, galeri yang mempromosikan karya seni dengan bertatap langsung dan salah satunya untuk kepentingan bisnis semata. Galeri semacam itu sangat sulit ditembus oleh para perupa muda yang lagi menjalani proses. Bagaimana dengan era globalisasi sekarang dengan teknologi sebagai kendaraan untuk membuka jaringan global. Internet menjadikan dunia hanya sebatas kampung, seharusnya para perupa muda mulai melirik dan banyak mengakses web-web yang memberikan peluang untuk mempresentasikan karyanya dalam Virtual gallery.
Virtual Gallery sebuah kerangka yang membangun pikiran dan imajinasi kita dalam dunia maya, dunia non realitas tetapi tanpa kelihatan nyata dan mempunyai bangunan interaktif maupun dinamis yang sewaktu-waktu bisa di update baik data maupun visualnya. Banyak galeri seni yang tumbuh di dunia maya coba saja akses ke google.com, ixquick.com, dan yahoo.com dengan memasukan kata kunci, maka akan terbukalah nama- nama virtual gallery, kita bisa mengunjungi galeri-galeri internasional seakan terasa memasuki ruang nyata yang sesungguhnya dan berhadapan dengan karya-karya seni dunia. (agus koecink. Tulisan ini diolah dari berbagai sumber di internet).
BIENNALE SENI RUPA III 2009 JAWA TIMUR
MENCARI BINGKAI KURATORIAL


Tiba saatnya menuju Biennale seni rupa Jawa Timur III 2009. kali ini Taman Budaya melalui diskusi pada hari ini mencoba merefleksikan kembali perjalanan Biennale Jawa Timur yang telah berjalan dua kali. Pada dasarnya Biennale adalah sebuah kegiatan seni rupa kontemporer dengan alur konsistensi penyelengaraan dengan kurun waktu setiap dua tahun sekali. Capaian Biennale seni rupa kontemporer adalah terbangunnya kondisi kondusif bagi dinamika beragam, pluralitas proses perkembangan dan perubahan pemikiran dan penciptaan karya seni rupa berdasarkan potensi sejarah budaya yang tumbuh dan berkembang pada komunitas seni rupa di Jawa Timur baik di desa, kota pedalaman maupun pesisiran.

Taman Budaya selalu mengawali kegiatan pra biennale dengan pameran gelar akbar sekaligus untuk mensosialisasikan isu-isu yang ada dalam bingkai Biennale.
Dua kali Biennale Jawa timur yang telah berjalan dengan konsep kuratorial berdasarkan ide dan gagasan kurator telah menjadi bukti bahwa Biennale Jawa Timur diperlukan untuk memetakan kebudayaan Jawa Timur biarpun masih dalam bingkai kuratorial yang acak tetapi penyelenggaraan Biennale menunjukan seni rupa Jawa Timur bukan lagi seni rupa dalam lingkaran abu-abu yang terpinggirkan tetapi akan tumbuh dan berkembang di tengah arus pusaran seni rupa nasional dan internasional. Saya bisa berkata begitu karena para pelaku jejaring pasar (kolektor,art dealer) hidup dan tumbuh di wilayah Jawa Timur khususnya di kota – kota besar. Mulai tertatanya insfrastruktur seni rupa pelan – pelan Jawa Timur tidak akan lagi menjadi tempat transit tetapi menjadi tempat untuk mencari perupa-perupa yang pontensial.

Jawa Timur merupakan wilayah kantong-kantong kebudayaan petani, nelayan dan urban perkotaan yang membentang mulai Madiun, Pacitan, Tulungagung, Ponorogo, Trenggalek, Kediri, Blitar, Malang, Lumajang Jember , Banyuwangi , Situbondo, Panarukan , Probolinggo, Pasuruan , Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Ngawi, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Pulau Bawean, Raja, Genteng, Sapudi dan Raas.
Disetiap kebudayaan diatas mempunyai basis potensi sejarah budaya lokal panjang yang bersumber kejeniusan lokal, pengetahuan lokal, kearifan lokal, kepercayaan lokal, dan alkuturasi agama-agama lokal.
Ini bisa dipresentasikan dalam bentuk : pahatan, candi, kerajinan, gerabah, sungging, wayang beber dan lukisan kaca.
Wilayah urban perkotaan, dalam dinamika persilangan budaya modernitas : lukisan, drawing, grafis, patung, keramik, kolase, instalasi, performance art, new media art, seni video dan digital print.

Berbasis pada fenomena diatas dan kita kaitkan dengan realitas seni visual yang ada dan sedang terjadi saat ini, terutama dalam konteks sosial budaya dikaitkan dengan konteks sejarah kebudayaan Jawa Timur akan bisa membawa alur yang berbeda dengan Biennale-Biennale yang terjadi diluar Jawa Timur. Fenomena sosial budaya yang terjadi kini adalah pada gejala hibriditas budaya yang terjadi diberbagai sektor kehidupan. Mengalami keindonesiaan sebagai entitas negara-bangsa (nation-state) bagi generasi, misalnya angkatan ’28,’45,’70 hingga generasi’80,’90-an akan sama sekali berbeda. Asumsinya setiap generasi melahirkan pengalaman dan langgam bahasanya sendiri, yang terkait dengan ingatan kolektif pada masanya. Jarak beberapa decade waktu yang memisahkan, meninggalkan warisan ingatan yang khas. ( Kuss Indarto bulletin Neo-Nation, 2007 hal 3 ).

Dalam konteks inilah saya kira alur Biennale Jawa Timur bisa berbeda dengan Biennale yang lainnya. Biennale seni rupa kontemporer adalah representasi tiap titik progress dialektis pada garis kurun waktu dua tahun sekali dari fenomena pertumbuhan dan pemikiran serta penciptaan karya seni di wilayah Jawa Timur .
Konteks seni rupa kontemporer, yaitu pertumbuhan dan perkembangan pemikiran dan penciptaan karya seni rupa yang sejaman dalam konteks alur waktu penyelenggaraan Biennale Jatim. Pengertian istilah kontemporer tidak mengacu pada mashab, ideology, atau konsep artistic tertentu,. Gambar Damar Kurung, Seni Gambar, Seni lukis kolase, Instalasi, New media art adalah seni rupa kontemporer.

Penyelenggaran Biennale III 2009 Jatim bisa juga menjadi jejak sejarah bergulirnya kebudayaan Jawa Timur yang berada dikantong- kantong kaki pegunungan, komunitas sepanjang sisi kali Brantas, pesisiran dan komunitas perkotaan.

Dalam penyelenggara Biennnale tetntu juga diperlukan apa yang di sebut landasan Estetika . Prinsip nilai estetika pada Biennale Seni Rupa Jatim mungkin bisa berdasar pada prinsip pluralitasme yang menghargai kemajemukan pemikiran dan penciptaan karya seni rupa berdasarkan potensi etnik, kepercayaan agama, kultur, sub-kultur dalam konteks merayakan demokratisasi kemanusiaan. (agus koecink)
Festival Seni Surabaya 2007
1-15 Juni 2007

PERADABAN BARU
DALAM SENI INSTALASI


Peradaban Baru bisa di maknai dengan datangnya kecepatan arus teknologi, komunikasi dan informasi. Datangnya dunia maya menjadikan dunia hanya sebatas kampung. Peristiwa yang terjadi hari ini bisa diakses bersamaan di seluruh dunia hari ini juga. Dulu orang harus menerima telepon di rumah kini bisa menerima sinyal telepon dimanapun berada. Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dengan mudah bisa dibuka kembali di dalam dunia maya.
Peradaban Dunia mulai berubah, Kegelisahan para perupa instalasi terhadap peradaban baru merupakan kegelisahan terhadap kesiapan –kesiapan menghadapi perubahan jamannya. Dalam teks kuratorial “ Indonesia Lintas Batas” (Wicaksono Adi) menguraikan, perubahan sosial yang terjadi di Indonesia dewasa ini semakin kompleks. Reformasi politik telah membuka berbagai kemungkinan bagi setiap individu untuk atau kelompok untuk menyatakan dirinya, menemukan identitasnya sendiri. Reformasi politik telah membuka ruang untuk mengikat dirinya pada kepentingan yang berbeda-beda. Tapi bersamaan dengan arus keterbukaan itu, terutama dalam perspektif komunikasi budaya, dalam masyarakat Indonesia sekarang ini sedang berlangsung apa yang dapat kita sebut sebagai gejala segregasi, framentasi, keterpecahan dan pertentangan yang kian luas.
Diantara kelompok sosial,politik, budaya, agama, suku, semakin rawan terjadi konflik yang kadang berujung pada kekerasan. Pihak yang satu hendak memaksakan “ kebenaran”nya kepada pihak yang lain, entah secara diam – diam maupun secara terbuka. Sementara kelompok lain mengisolasi diri menjadi dan menjadi entitas yang eksklusif. Disitu tak terjadi dialog atau komunikasi di antara berbagai kelompok sosial maupun sub-kultur yang ada untuk saling memahami atau mencari consensus bersama dalam kerangka pluralitas yang sehat.
Dalam sejarah Indonesia belum pernah terjadi fragmentasi sosial sedemikian mengkhawatirkan. Dan semua orang tahu bahwa politik gagal mencairkan kemacetan komunikasi antar elemen sosial itu. Bahkan dalam banyak hal politik justru memperburuk kemacetan tersebut yang kemudian meledak menjadi konflik horizontal. Sementara perkembangan pada aspek ekonomi keadaannya lebih buruk lagi dengan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi dan kian sempitnya lapangan kerja ditambah dengan kebijakan yang tidak memberi dampak pada akar rumput.
Gejala lain adalah semakin rumitnya hubungan sosial yang berlangsung bersamaan dengan menguatnya arus urbanisasi. Gejala ini sesungguhnya sudah dimulai sekitar empat puluh tahu yang lalu ketika kota-kota besar mulai berkembang dan menyedot hasil seluruh sumber daya ( manusia , ekonomi, informasi, teknologi dan budaya) yang ada di kota. Kota atau metropol menjadi pusat segala- galanya. Kota adalah lambing modernisasi yang melahirkan berbagai persoalan sosial-budaya yang meluas. Kehidupan masyarakat urban adalah fenomena baru bersamaan dengan menggelembungnya kehidupan kota besar. Tidak semua orang yang hidup dikota besar memiliki akses sehingga sering menjadi penonton dari pertunjukan drama modernitas yang gemerlap.
Perubahan- perubahan yang diuraikan diatas itulah yang direspon oleh para peseni rupa instalasi dalam pameran Festival Seni Surabaya 2007. Para perupa instalasi memaknai peradaban Baru sebagai sebuah peristiwa yang terjadi dilingkungan dimana mereka hidup. Para perupa instalasi yaitu Agung S Tato, Bambang Bp, Dukan Wahyudi, Benny Wicaksono, Tiok, Insonium, Hanafi dan Hedi Hariyanto. Mereka menawarkan gagasan-gagasan yang patut kita refleksikan kembali pada dunia realitas misalnya, karya Agung S Tato “ Blue Film” media patung, lampu led, televisi, video, kain , mempertanyakan siapa sebenarnya sang diktator. Agung S Tato beranggapan dalam masyarakat global yang tengah memasuki suatu era atau sebuah dunia yang baru, dunia maya, atau dunia digital yang didalamnya apapun yang dilakukan di dunia nyata, semuanya dapat dilakukan dalam dunia maya. Segala sesuatu yang dulu kita anggap tak mungkin, sekarang sekarang bisa wujudkan dan dialami sebagai sebuah realitas yang nyata. Dalam dunia maya, realitas tersebut dapat bisa kita alami lewat sebuah simulasi. Simulasi ini menjadikan kita tak bisa membedakan lagi akan kondisi keduanya. Manusia mempunyai pilihan menciptakan realitas yang baru, yang tidak pernah dialaminya sebelumnya. Manusia mempunyai kekuasaan dalam memilih realitas yang diinginkannya tanpa dibatasi ruang dan waktu. Secara dialektik , dunia maya atau dunia digital tersebut mempunyai kekuatan dan kekuasaan untuk membentuk manusia, baik secara psikologis maupun budaya. Dunia maya tersebut mempunyai dampak. Dan dia telah menjadi suatu budaya baru. Dunia maya atau digital tersebut, disimbolkan dengan citraan cahaya lampu-lampu biru yang muncul dari media layar kaca ( sebagai citraan dari dunia maya atau digital), lalu terbang ke udara dan membentuk menjadi bentukan figur. Figur diasumsikan sebagai suatu kekuatan , kekuasaan dari budaya baru tersebut. Terlihat dari karyanya sosok figur dengan pose seperti halnya pose-pose diktator masa lalu , seperti Benito Musolini ataupun pose Superhero. Sedangkan kekuatan atau kekuasaan dunia baru ini telah menyebar ke segala lini. Bahkan sampai-sampai kita tak menyadarinya bahwa kita telah masuk kedalam cengkramannya. Hal ini diaplikasikan pada bentangan kain sepanjang dinding, langit-langit yang melingkupi ruang dan berujung pada figur tersebut.
Karya Hanafi, “ Terakota Bumi yang Pedih” mixed media, memajang deretan lampu neon sebanyak duapuluh buah dengan hanya satu neon yang hidup, nampaknya Hanafi merespon kesalahan manusia terhadap alam yang berakibat pada kerusakan lingkungan. Ibarat kereta-kereta yang hilang relnya mencari jalan pulang. Orang kehilangan rumah seperti hujan yang kehilangan sungai. Mereka tumpah dijalan-jalan , sebelum bertemu lagi” kenangan dirumah-rumah terendam”. Hujan mencari sungai sebelum akhirnya kelaut, dalam kehidupan yang rumit itu. Besok pagi, matahari akan menerbangkan Lumpur-lumpur itu,mengeringkan kembali atap miring. Setiap orang akan memiliki kembali rumah-rumah mereka, anak-anak akan bertemu lagi dengan boneka kesayangannya. Besok pagi, tetapi lampu –lampu neon sudah tak bisa nyala kembali. Hanafi merepresentasikan kesrakahan manusia atas alam seperti misalnya, pengeboran minyak dan gas yang akhirnya menumpahkan Lumpur, pembalakan liar yang mengakibatkan banjir bandang, pencemaran dan sebagainya.
Pematung Hedi Hariyanto mencoba merespon hubungan ibu dan anak dalam karyanya “ Where is my Mom”, Hedi menggambarkan kaum ibu sudah tidak menyusui sang bayi dengan ASInya tetapi menggantikannya dengan susu-susu kaleng buatan Pabrik. Karya dengan bentuk sapi yang terbuat dari fiber dan dilapisi kaleng-kaleng bekas susu membawa kepala-kepala bayi dalam lingkaran ini memang sebenarnya adalah suatu pengingatan bahwa peradaban manusia sedang berubah. Dalam karyanya yang lain “ Proyeksi “ Hedi memajang empat figur dengan posisi berdiri satu dilapisi kaleng-kaleng bekas dan dibentangkan dengan senar. Karya Hedi menggambarkan kehidupan orang-orang dari desa yang bekerja dan mencari pengalaman hidup di kota besar. Kota menjadi harapan untuk merubah nasib hidupnya didesa, kota besar menjadi proyeksi gaya hidup. Seorang perempuan desa yang bekerja di rumah –rumah besar sebagai pembantu, pengasuh anak merekontruksi tubuhnya menyamai pemilik rumah dengan model rambut dicat, penjaga plasa berpakaian ketat mempromosikan produk dari sebuah butik, buruh pabrik memakai asesoris serba mall dan lainnya.
“ Home Sick Home”, interaktif instalasi karya garapan kelompok Insomnium ini menggambarkan keluarga dalam dunia televisi. Sebuah penggambaran tentang kondisi seseorang atau sebuah keluarga. Mereka mengetahui peradaban baru dalam depan telivisi dan beberapa lembar Koran setiap harinya. Dari ruangan yang dibangun. Audien dapat masuk kedalam ruangan tersebut dan merasakannya sekaligus mengidentifikasi bagaimana pemilik ruangan (fiktif) tersebut menjalani kehidupan sehari-harinya. Insomnium didirikan bersama beberapa individu yang tertarik mengembangkan fotografi. Juga merupakan ruang ekspresi independen dalam wilayah khusus riset dan konservasi, documenter, edukasi dan workshop fotografi.
Benny Wicaksono dalam “Benny Wicaksono and The Projector” mengambarkan gemerlapnya dunia dugem dengan visual hasil ciptaannya dengan merangkai dalam projector. VJ-ing atau video Jockeying, sebuah aksi visual yang mendukung musik elektronik di tempat-tempat dance community. VJ-ing biasanya dilakukan dengan menggunkan perangkat computer. Menggunakan program-program tertentu, seperti, motion drive, resolume, RC Fuse dan sebagainya, tempat stok gambar ( footage) sudah dipersiapkan sebelumnya didalam perangkat computer(hard disk). Benny membuat manual VJ Machine, seperangkat mesin VJ manual. Visual yang dibuat semunya menggunakan material yang dipungut darai mana saja. Sepert korek api, guntingan Koran, daun Koran, dan sebagainya. Visual langsung dibuat di tempat ( realtime) untuk mendukung ilustrasi musik elektronik. Benny mencoba mengapresiasikan musik dugem kedalam karya seni instalasi, pada saat pembukaan dilakukan dengan performance para VJ-ing hasil dari performance direkam dan dipamerkan.
Seni Instalasi membuka ruang yang bebas untuk mengekspresikan gagasan-gagasan maupun ide-ide tanpa berpikir apakah karyanya laku atau tidak. Seni Instalasi menjadi media untuk mevisualkan ide-ide dalam bentuk tiga Maupun dua dimensi dalam wacana apapun. Karya –karya yang tampil dalam Festival Seni Surabaya 2007, memberi ruang apresiasi tersendiri bagi masyarakat Kota Surabaya.
Sayangnya Ruang pamer begitu menjadi sumpek dan berantakan karena kesadaran sebagian dari perupa instalasi kurang dalam merespon sebuah ruang yang sebenarnya memang bukan sebagai tempat pamer. Ruang dengan banyak pilar dan hiasan-hiasan colonial tersebut menjadikan karya yang dipajang belum memberikan sentuhan Instalasi yang sesungguhnya. Pada realitasnya seni Instalasi tidak hanya berpikir tentang ide dan gagasan saja akan tetapi bagaimana sebuah karya mampu memberikan sentuhan sensibilitas kepada penonton. Kesadaran dalam membangun karya dan antisipasi terhadap persoalan ruang masih menjadi salah persoalan yang harus dipecahkan. Kota Surabaya Sudah seharusnya memiliki ruang pamer yang representative jadi karya – karya seni Instalasi bisa di nikmati dan di apresiasi bukan ruang perkantoran yang di sulap menjadi ruang pamer. (agus koecink)